Senin, 17 September 2012

LAYAR TANCAP MASUK DESA

BLORA,goasentono.com - Bisa jadi ini karena warga di desa di Kabupaten Blora butuh hiburan gratis atau merindukan kumpul guyub sejenak melupakan rutinitas harian.
Sejumlah desa melalui para perangkat desa meminta Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora menggelar hiburan layar tancap di desanya masing-masing. DPPKKI pun menyambut baik permintaan tersebut. Namun karena keterbatasan personel dan peralatan serta terutama dana, tidak semua permohonan itu dipenuhi.

‘’Di bulan September ini kami menjadwalkan empat kali pelaksanaan sosialisasi pembangunan dan hiburan melalui layar tancap di empat desa. Artinya, dalam satu pekan minimal satu kali kegiatan,’’ ujar Kepala DPPKKI Blora, Bondan Sukarno, Minggu (16/9).
Sebenarnya menurut dia program sosialisasi pembangunan lewat layar tancap sudah selesai dilaksanakan tahun ini. Yakni dengan melakukan kegiatan di beberapa desa. Hanya saja setelah warga di desa lainnya mengetahui program kegiatan yang dilaksanakan DPPKKI tersebut, merekapun menghendaki desanya dijadikan tempat pelaksanaan sosialisasi dan hiburan melalui layar tancap. ‘’Beberapa kepala desa dan camat menghubungi kami. Mereka minta layar tancap dilaksanakan di desa mereka,’’ tandasnya.
Bondan Sukarno yang juga mantan kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) mengemukakan pada bulan September ini, layar tancap akan dilaksanakan di Desa Mojorembun Kecamatan Kradenan (14/9), di Desa Sumberagung Kecamatan Banjarejo (19/9), di Desa Sendangmulyo Kecamatan Kecamatan Ngawen (21/9) dan pada 26 September 2012 di Desa Gadon Kecamatan Cepu. ‘’Antusiasme masyarakat desa terhadap layar tancap ini ternyata sangat tinggi,’’ tegasnya.
Ditambahkan pula layar tancap masih mengandalkan film visi dan misi bupati. Hiburan dari tayub remaja di pelataran Candi Borobudur, Kirun Cs, dan film Ki Samin Surosentiko Melawan Ketidakadilan. Dalam kegiatan itu dilakukan penyuluhan pajak, keluarga berencana, dan perbankan Bank Jateng.
Crew film, Samedi Joko Waspodo, menambahkan tingginya antusiasme warga tersebut mungkin wujud dinamika alam dari kejenuhan  masyarakat yang melihat TV acaranya begitu-begitu saja. ‘’Dalam kegiatan layar tancap itu anak-anak dan orang tuanya berbaur jadi satu membawa layar terpal sebagai alas duduk penonton sampai akhir film jam 24.00,’’ ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar